Selama ini, kita menganggap astronaut atau spaceman sebagai manusia super: pilot jet tempur yang tak kenal takut atau ilmuwan jenius dengan gelar PhD berlapis. Kriteria “The Right Stuff” (istilah klasik untuk karakter astronaut ideal) selalu tentang keberanian, fisik prima, dan kecerdasan teknis.
Namun, untuk misi ke Mars, kriteria itu berubah total.
Perjalanan ke Planet Merah akan memakan waktu sekitar 3 tahun (pulang-pergi). Selama waktu itu, sekru kecil manusia akan terkurung dalam kaleng logam sempit, terputus dari Bumi, tanpa jalan keluar. Dalam kondisi ini, musuh terbesarnya bukan lagi alien atau kegagalan mesin, melainkan rekan satu tim dan pikiran sendiri.
Inilah cara NASA mempersiapkan mental para calon penjelajah Mars untuk menghadapi isolasi paling ekstrem dalam sejarah manusia.
1. Seleksi Karakter: Mencari “Orang yang Tidak Menyebalkan”
Untuk misi singkat ke Bulan atau ISS, NASA bisa mentolerir individu yang arogan asalkan mereka jenius. Tapi untuk misi 3 tahun ke Mars, “kejeniusan” turun peringkat di bawah “kemampuan bergaul”.
Psikolog NASA kini mencari sifat “Expeditionary Behavior”. Ini mencakup:
- Kecerdasan Emosional (EQ): Kemampuan membaca suasana hati rekan tim.
- Toleransi Rendah terhadap Drama: Orang yang bisa menyelesaikan konflik tanpa meledak-ledak.
- Humor: Kemampuan menertawakan situasi sulit adalah mekanisme pertahanan mental yang krusial.
Secara sederhana, NASA mencari orang yang, jika Anda terjebak dengannya di dalam lift selama 3 tahun, Anda tidak ingin membunuhnya.
2. Simulasi Analog: Mars Palsu di Bumi
Bagaimana cara melatih isolasi? Dengan mengurung mereka di Bumi. NASA menjalankan misi analog seperti CHAPEA (Crew Health and Performance Exploration Analog) dan HI-SEAS.
- Lokasi Terpencil: Di lereng gunung berapi Hawaii atau gurun Utah, kru tinggal di habitat kecil yang meniru pangkalan Mars.
- Aturan Ketat: Mereka tidak boleh keluar tanpa baju luar angkasa palsu. Makanan mereka adalah makanan kering beku. Air dijatah ketat.
- Stres Buatan: Peneliti sengaja memicu stres, seperti mematikan listrik di tengah malam atau memberikan tugas yang mustahil, hanya untuk melihat bagaimana kru bereaksi: Apakah mereka saling membantu, atau saling menyalahkan?
3. Mimpi Buruk Time-Delay 40 Menit
Di film-film, saat ada masalah, astronaut berteriak: “Houston, we have a problem!” dan Houston langsung menjawab. Di Mars, itu mustahil.
Jarak Bumi-Mars membuat sinyal radio membutuhkan waktu hingga 20 menit untuk sampai. Ini berarti:
- Astronaut bertanya.
- Menunggu 20 menit sinyal sampai ke Bumi.
- Mission Control berpikir dan menjawab.
- Menunggu 20 menit jawaban sampai ke Mars.
Total 40 menit keheningan dalam situasi darurat. NASA melatih calon kru Mars untuk menjadi otonom. Mereka tidak bisa lagi bergantung pada “suara Tuhan” dari Mission Control. Mereka harus mengambil keputusan hidup-mati sendiri, dan menanggung beban psikologis dari keputusan tersebut.
4. Melawan “Earth-Out-of-View Phenomenon”
Astronaut di ISS masih bisa melihat Bumi yang indah berputar di bawah mereka setiap 90 menit. Pemandangan itu menenangkan dan memberi koneksi.
Di perjalanan ke Mars, Bumi hanya akan terlihat sebagai satu titik cahaya kecil di antara bintang-bintang lain, atau bahkan hilang sama sekali. Psikolog mengkhawatirkan efek “Earth-Out-of-View”. Rasa putus hubungan total dari rumah ini bisa memicu depresi eksistensial dan kecemasan mendalam. Pelatihan saat ini mencakup teknik mindfulness, realitas virtual (VR) yang mensimulasikan hutan atau pantai, dan hobi kreatif (seperti melukis atau berkebun hidroponik) untuk menjaga kewarasan.
Kesimpulan: Kekuatan Mental di Atas Segalanya
Misi ke Mars bukan lagi sekadar tantangan roket (teknik), melainkan tantangan manusia (biologis dan psikologis).
NASA menyadari bahwa rantai terlemah dalam misi antarplanet bukanlah lambung kapal yang tipis, melainkan psike manusia yang rapuh. Calon Spaceman masa depan tidak hanya dilatih untuk memperbaiki sirkuit listrik, tetapi juga dilatih untuk memperbaiki suasana hati tim yang rusak dan berdamai dengan kesepian yang absolut.
